SIARAN PERS: GUBERNUR LEMHANNAS RI ; NKRI Terbentuk dengan Kesukarelaan

20/05/2017 01:21  News

SIARAN PERS: GUBERNUR LEMHANNAS RI ; NKRI Terbentuk dengan Kesukarelaan


Jakarta Geopolitical Forum Jakarta, Jumat 19 Mei 2017
 
 
Lemhannas—Jakarta, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Letjend TNI (Purn) Agus Widjojo memaparkan dalam Jakarta Geopolitical Forum (JGF) bahwa kondisi demokrasi di Indonesia belum selesai. “Transisi demokrasi akan selesai dan mencapai konsolidasi demokrasi apabila semua warga percaya kepada demokrasi dan dalam mencari solusi menggunakan kaidah-kaidah demokrasi. Dalam masyarakat kita masih banyak yang mencari penyelesaian di luar kaidah demokrasi”, ujar Gubernur Agus. Dia melanjutkan bahwa dalam transisi demokrasi, banyak yang harus dibenahi yaitu proses dimana publik atau komunitas internasional ingin melakukan dalam waktu singkat. Selain itu Indonesia juga harus belajar tentang penegakan supremasi hukum sebagai salah satu pilar demokrasi.   Gubernur Agus menyatakan dengan tegas bahwa NKRI tidak terbentuk dengan pemaksaan, semua dengan kesukarelaan. Kecepatan aspirasi dalam masyarakat mendahului pembangunan    efektivitas lembaga-lembaga demokrasi. “Seperti revolusi teknologi (IT) membuat kita terkejut dan harus segera memulihkan kembali kesadaran diri untuk merespon hal itu karena semua elemen mempunyai kontribusi dalam transisi demokrasi,”ungkap Gubernur Agus.  Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Dorodjatun KuntjoroJakti, Guru Besar Emeritus Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menegaskan hal yang sama tentang kesukarelaan yang menjadi dasar berdirinya Indonesia. “Cara Indonesia berdiplomasi mencerminkan hal itu. Indonesia tidak membedakan mana negara besar dan kecil atau tendensi negara tetangga. Itu sesuai dengan konstitusi. Kita menghargai perbedaan, tidak memusuhi siapapun hanya karena perbedaan.”tutur Dorodjatun Guru Besar ini menegaskan ke depan perbedaan bukan akan berkurang tetapi akan semakin banyak, apalagi dengan adanya IT yang mudah menyebarkan segala informasi. Oleh karena itu perbedaan harus bisa diterima dengan biasa, tidak boleh dipaksakan, berikan argumen yang positif. “Seperti politik luar negeri (polugri) Indonesia terutama di ASEAN, banyak capaian diraih karena sabar dalam berargumen,” ungkap Dorodjatun


 Kontak person : Laksma TNI Estu Prabowo (0811163750)
 

Bagikan:


Didukung oleh