Geopolitik Perubahan Iklim

15/05/2017 05:46  Articles

Geopolitik Perubahan Iklim

Dari  The Politics of Climate Change, oleh Lord Anthony Giddens

 

Pembahasan mengenai hubungan internasional dan perubahan iklim mengacu pada dua hal. Di satu sisi, terdapat banyak karya mekanika yang meraih kesepakatan internasional tentang kandungan gas emisi. Di sisi lain, meningkatnya jumlah penelitian yang mencoba menganalisa implikasi perubahan iklim terhadap geopolitik. Saya berpendapat pada bab ini bahwa kita harus lebih mendekatkan dua pokok pemikiran ini secara bersama-sama daripada yang saat ini. Sekali lagi, energi –terutama minyak dan segala pertarungan yang berpusat padanya (note:minyak) – memenuhi salah satu poin utama dari adanya keterhubungan atau relasi.

 

Hal ini tampak bahwa menanggapi persoalan perubahan iklim pada hakekatnya akan berkontribusi terhadap kerjasama internasional. Namun proses dan kepentingan untuk mengangkat pembagian begitu kuat. Melelehnya es di Kutub Utara memberikan satu contoh yang tepat. Pada saat wilayah tersebut hanya berupa hamparan es, banyak kerja sama  yang dilakukan dalam berbagai kegiatan di sana yang terutama adalah kegiatan ilmu pengetahuan alam. Fakta bahwa navigasi melewati Kutub Utara menjadi semakin mungkin dan bahwa sumber minyak, gas dan mineral yang baru dan besar mungkin saja tersedia, telah menyebabkan pada bagi-bagi kepentingan dan juga friksi internasional yang untungnya sejauh ini sifatnya masih dalam batas.

 

Isu seputar perubahan iklim – terutama bersamaan dengan pengembangan kelangkaan energi – bisa jadi baik dimiliterisasi dan didominasi oleh resiko keamanan. Hasilnya bisa kemunduran kerjasama internasional secara cepat, dan keamanan terlihat meningkat seperti terbelah. Apa yang seharusnya menjadi tujuan utama yakni pengurangan emisi  justru dapat menjadi mangsa dari pergulatan yang penuh kompetisi, memperburuk ketegangan dan keterbelahan yang sudah ada sebelumnya. Para pemimpin Negara atau kelompok Negara bisa mengeksploitasi perubahan iklim ujung-ujungnya untuk golongan mereka sendiri. Bisa dibayangkan adanya beberapa arah yang berbeda menuju konflik kekerasan. Sebagai contoh, pemimpin politik bisa jadi memanfatkan perubahan iklim yang menyebabkan ketegangan untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasannya dalam pergulatan internal mereka– contohnya, para migran mungkin dimanfaatkan sebagai  kambing hitam dalam posisi/daya tawar kekuasaan. Di wilayah yang rentan atau labil di dunia, negara menjadi lemah karena konsekuensi perubahan iklim bisa jadi diserang oleh negara tetangganya untuk mencoba mendapatkan manfaat dari persolan negara tadi.

 

Kemungkinan lebih jauh adalah bahwa konflik bersenjata bisa terjadi karena negara mencoba memegang kendali terhadap sumber energi ketika permintaan (demand) melebihi pasokan (supply) – jalan yang paling mungkin jika skenario terburuk dari perubahan iklim terus berlanjut. Situasi ini bisa terjadi jika ekonomi dunia ‘dinasionalisasi kembali’ dengan meluasnya kembali  proteksionisme. Namun kemungkinan lainnya adalah bahwa ‘konflik penghidupan – adalah jenis yang meluhlantakkan Dafur – mungkin menjadi biasa. Kelompok yang hidup pada tingkatan hampir pada sekedar untuk menyambung hidup dapat berbenturan karena penghidupan mereka mulai menguap,  lalu mendatangkan pelindung militer dari satu jenis atau lainnya. Masing-masing jalan di atas bisa saling tumpang tindih atau jalin-menjalin.

.

Meskipun sumber persoalan pertumpahan darah, kelaparan dan tuna wisma yang dipicu oleh konflik di Dafur sangat kompleks, situasi di sana bisa disebut sebagai ‘perang perubahan iklim pertama’, semenjak pengeringan Danau Chad sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap migrasi yang menjadi penyebab konflik. Dengan pengaruh ini, kita melihat kembali ketika perubahan iklim bersinggungan dengan sumber energi. China sekarang begitu aktif terlibat di Sudan karena minyak dan mineral yang dimiliki Sudan. Orang-orang China memasok senjata dan latihan kepada pasukan pemerintah dan untuk sementara menolak bergabung dengan PBB dan Negara-negara besar lainnya dalam mengutuk  peran pemerintah Sudan dalam kejadian yang meprihatinkan tersebut.

 

Sudah menjadi hal biasa untuk menyatakan bahwa sebagian besar konflik sekarang ini, dibandingkan dengan perjuangan abad ke-20, berasal dari negara lemah daripada yang kuat. Namun begitu, banyak yang akan juga bergantung pada seberapa kuat hubungan, koneksi dan kepentingan timbal balik dari negara-negara dan kelompok negara inti di kawasan dan terbukti. ‘Negara-negara poros’ adalah Negara yang mempunyai pengaruh signifikan pada satu kawasan secara keseluruhan. Apabila mereka stabil dan suskes secara ekonomi, mereka cenderung mempunyai ‘efek meredakan’ di kawasan tersebut. Sebaliknya, apabila mereka mengalami kesulitan, sangat mungkin tumpah sehingga mempengaruhi seluruh wilayah sekitarnya. Negara-negara seperti itu termasuk Brazil dan Meksiko, Afrika Selatan dan Nigeria, Mesir, Pakistan dan Korea Selatan. Tentu saja jika kemunduran besar terjadi di Negara-negara sangat besar seperti China dan India, gemanya akan jauh lebih mengganggu.

 

Fokus utama perencanaan strategis dan militer AS, menurut laporan resmi terbaru, untuk selanjutnya akan fokus pada kompetisi untuk sumber daya alam, sebuah kompetisi yang Pentagon lihat sebagai: yang telah berjalan. Jangkauan global yang ingin dicapai oleh China, menurutnya, lebih didorong oleh tuntutan ekonomi untuk kebutuhan bahan baku dari pada karena pandangan ideologi tertentu. Pengaruh China yang meningkat di Timur Tengah dan Afrika adalah masalah yang menjadi perhatian khusus. Kembalinya Rusia pada keunggulan dalam geopolitik didorong hampir seluruhnya oleh kenaikan sebelum 2008 pada harga minyak, gas dan mineral industri. Perhatian sekarang tertuju pada kelangkaan sumber daya alam, Michael Klare telah mengamati,‘mewakili pergeseran kualitatif dalam pemikiran AS, diawali bukan oleh keyakinan yang optimis mengenai kemampuan kapasitas AS untuk mendominasi ekonomi dunia tetapi oleh pandangan pesimistis yang tinggi dalam melihat ketersediaan sumber daya alam vital di masa depan’.

 

Gagasan ini telah mendorong kembalinya pada investasi di kekuatan laut. Departemen pertahanan AS harus mampu berpatroli di rute utama laut di dunia untuk memastikan keamanan nasionalnya. Secara keseluruhan, 75% minyak dunia dan 90% barang perdagangan manufaktur diangkut melalui laut. Dalam proposal budget untuk tahun 2009, pemerintah AS menguraikan program baru secara lengkap mengenai investasi dalam kapal induk bertenaga nuklir, kapal perusak yang berkemampuan membawa anti rudal berat dan kapal tempur lainnya. Armada yang sudah ada sekarang akan dipindahkan dengan ditekankan secara lebih besar pada rute utama melalui rute yang sebagian besar dilewati bahan baku.

 

Belum lama ini, hampir semua pangkalan militer AS dibangun di Eropa Barat, Korea Selatan dan Jepang. Selama beberapa tahun terakhir, perpindahan dari wilayah tersebut ke Eropa Tengah Timur dan Asia Tengah dan Barat daya dan sebagian Afrika telah dimulai. Wilayah-wilayah ini berisi Negara-negara yang dianggap mendukung terorisme tetapi negara-negara tersebut juga merupakan tempat tinggal lebih dari ¾ minyak dan gas di dunia dan juga persentase yang besar untuk uranium, tembaga dan kobalt. Paling tidak beberapa pangkalan tersebut diperuntukkan supaya keberadaannya permanen di Irak dengan tujuan untuk melindungi instalasi minyak, demikian juga memberikan training atau pelatihan bagi polisi dan tentara untuk bertindak melawan pemberontak.

 

China dan Rusia sedang membangun jaringan keamanan mereka sendiri, dengan kesadaran sendiri dalam perlawanan terhadap dominasi AS. Seperti yang sudah disebutkan, keterlibatan Cina di Sudan telah diperdebatkan perannya dalam pertumpahan darah di negara tersebut. Cina juga terlibat di Afrika Utara, Angola, Chad dan Nigeria. Cina juga menjadi salah satu pemasok utama peralatan militer ke negara-negara tersebut.  bnPengembangan dan penasehat militernya bersaing dengan mereka yang berasal dari AS. Di Asia Tengah dan Timur, Rusia dan China telah membentuk mitra tanding untuk NATO dalam bentuk Organisasi Kerjasama Shanghai, sebuah aliansi militer yang besar. Komponen di negaranya telah mendukung secara kuat untuk menegaskan pengaruhnya terhadap negara-negara kaya sumber daya alam. Satu dari Negara-negara tersebut, Kazakhstan, adalah salah satu anggota aliansi bersama dengan Kyrgyzstan, Tajikistan dan Uzbekistan.

 

Bagikan:


Didukung oleh